WELCOME TO MY BLOG
| | | | |
TEGAKKAN SYARI'AH DAN KHILAFAH ISLAMIYAH

Senin, 30 September 2013

Vaksinasi Ternak Ruminansia

KESEHATAN TERNAK
“VAKSINASI PADA TERNA RUMINANSIA”

OLEH:

Agis Cahyono. W

L1A1 11 025


JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013
  




I.      PENDAHULUAN
Vaksin ternak non unggas meliputi vaksin ternak besar (sapi potong, sapi perah, kerbau, domba, kambing, dan babi) dan vaksin untuk hewan kecil atau hewan kesayangan (anjing dan kucing). Kebutuhan vaksin untuk ternak besar diprioritaskan untuk pengendalian penyakit strategis seperti SE (septicemiaepizootica), antraks, brucellosis, dan hogkholera (Akoso 2000). Kusumaningsih et al (2001) melaporkan kebutuhan vaksin SE mencapai 7,50 juta dosis, vaksin antraks 9,40  juta dosis, vaksin brucellosis 3,70 juta dosis, dan vaksin hog cholera untuk babi sekitar 3 juta dosis. Ketersediaan vaksin SE sekitar 3,50 juta dosis, vaksin antraks 1,40 juta dosis, vaksin brucellosis 198 ribu dosis, dan vaksin hog kholera 372 ribu dosis. Berdasarkan data tersebut terdapat kekurangan vaksin untuk hewan besar dalam jumlah yang cukup besar. Namun demikian mengingat sebagian besar peternakan ternak besar ini merupakan peternakan rakyat sehingga program vaksinasi dan kebutuhan vaksinnya masih disubsidi oleh pemerintah, bisnis vaksin untuk ternak besar belum menarik minat pihak swasta. Selain itu multivalen dan vaksin E. coli polivalen untuk babi dan sapi, serta vaksin enterotoksemia dan blackleg bivalen untuk sapi, kerbau, domba, kambing, dan babi (Natalia 1996; Natalia et al. 1996; Supar et al. 1998, 1999). Ramdani et al.(1997) dan Chancellor et al. (1999) juga telah menghasilkan vaksin SE bivalen dan polivalen dari isolat lokal terpilih yang dapat melindungi sapi dan kerbau secara lebih baik dibanding vaksin yang biasa dipergunakan.
Penyakit Anthrax merupakan salah satu penyakit yang fatal dan bersifat zoonosis yaitu dapat menular ke manusia yang disebabkan oleh Bacillus anthracis. Seluruh mamalia dapat terserang penyakit ini dengan beberapa tingkatan, tetapi ruminansia seperti sapi, kambing dan domba adalah hewan yang sangat rentan/mudah terserang baru diikuti kuda dan babi (ANON, 2000; ANON, 2001a). Selain itu juga menyerang berbagai jenis hewan liar, kelinci, marmot tetapi tidak menyerang hewan berdarah dingin maupun unggas kecuali burung unta (ANON, 2001a; ANON, 2004c; ANON, 2004a; ANON, 2001b). Anthrax disebut juga Radang Lympha, Malignant Pustule, Malignant edema, Woolsorter disease, Rag pickers disease, Charbon. Kata Anthrax dalam bahasa Inggris berarti batu bara, dalam bahasa Perancis disebut sebagai Charbon dan dalam bahasa Yunani berarti batu bara. Kata tersebut digunakan sebagai nama penyakit pada manusia yang ciri utamanya yaitu adanya luka yang rasanya pedih, ditengahnya berwarna hitam seperti batu bara (CHRISTIE, 1983). Pada manusia dikenal sebagai Malignant pustule (MARC, 1752; FOURNIER, 1769). Penyakit ini bersifat zoonosis sehingga dapat menular kepada manusia dan menimbulkan kematian.


II.   PEMBAHASAN
Kejadian antraks di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1884 di Teluk Betung Lampung. Kasus antraks di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terjadi pada tahun 1975 (Ditjennak 2001). Pulau Sumbawa adalah satu dari dua pulau utama di Provinsi NTB yang memiliki potensi peternakan yang cukup besar. Sistem peternakan umumnya dengan melepas ternaknya di lading pengembalaan. Potensi padang pengembalaan ternak di P. Sumbawa tersebar di hampir semua kecamatan dengan luas 68.544,65 hektar (ha) terdiri dari potensi riil seluas 59.957,45 ha dan rencana perluasan 8.587,20 ha serta potensi kebun untuk penanaman hijauan makanan ternak (HMT) seluas 17.813,25 ha.
 Tantangan dalam peningkatan produksi peternakan di Pulau Sumbawa salah satunya adalah adanya kejadian antraks hampir selalu terjadi setiap tahunnya. Jika padang pengembalaan atau lingkungan budidaya ternak yang tercemar spora Bacillus anthracis dan tidak ditangani secara baik akan mengakibatkan penyakit bersifat endemik pada wilayah tersebut (Ditjennak 2001). Daerah yang sudah terjangkit antraks maka akan sulit untuk dibebaskan. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat penyakit antraks cukup tinggi walaupun angka yang pasti belum diketahui. Kerugian meliputi biaya vaksinasi, biaya pengobatan apabila terjadi kasus penyakit, kematian ternak, penurunan produktivitas (tenaga kerja, daging dan susu), penurunan reproduksi dan kerugian lain adalah rasa cemas di masyarakat karena penyakit antraks bersifat zoonosis.
Menurut data Disnak Prov. NTB (2008), realisasi vaksinasi, populasi ternak (sapi dan kerbau) dan kematian ternak di P. Sumbawa antara tahun 2005-2007 sebagai berikut : tahun 2005 realisasi vaksinasi 146.786 dosis, populasi ternak 336.328 dan kematian ternak 14 ekor; tahun 2006 realisasi vaksinasi 278.4522 dosis, populasi ternak 355.270 dan kematian ternak 28 ekor; dan tahun 2007 realisasi vaksinasi 298.375 dosis, populasi ternak 377.662 dan kematian ternak 12 ekor. Vaksinasi tersebut masing-masing hanya mencakup 22%, 39% dan 39% dari populasi ternak sapi dan kerbau. Vaksinasi pada kambing cakupannya sangat rendah dikarenakan pada kambing masih terjadi anafilaktik shock setelah vaksinasi.

Vaksinasi Anthrax
Vaksinasi merupakan salah satu cara yang dipergunakan untuk pencegahan penyakit Anthrax. Vaksin pertama kali dibuat oleh PASTEUR (1879). Pasteur menemukan bahwa inkubasi bakteri pada suhu 420C akan menyebabkan penurunan sifat virulensi bakteri ini. Vaksin ini tidak digunakan lagi setelah ditemukan vaksin spora (“spore live vaccine”) oleh karena dapat disimpan lebih lama. Vaksin spora ini berasal dari varian yang tidak berkapsel dan tidak virulen (LAY, 1988). Penambahan saponin dalam vaksin akan menghambat penyebaran yang cepat dari sporake dalam jaringan sehingga akan dihasilkan efek adjuvan (vaksin carbozoo).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam vaksinasi Anthrax antara lain penyimpanan vaksin tidak boleh di frezzer tetapi di refrigeratornya . Hewan-hewan yang sedang dalam pengobatan antibiotika tidak diijinkan untuk divaksin Anthrax misalnya sapi perah dalam pengobatan karena mastitis. Hewan yang akan dipotong dalam waktu minimal 6 minggu sebelumnya tidak boleh divaksin (ANON, 2002a). Hasil  vaksinasi Anthrax pada sapi di wilayah Semarang dan Boyolali pada tahun 1990 menunjukkan hasilyang bagus yaitu terjadi penurunan kematiansapi secara signifikan. Hasil vaksinasi pada sapi-sapi tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Hasil vaksinasi anthrax pada sapi perah di Semarang dan Boyolali tahun 1990.



 


Vaksinasi pada sapi perah di Kabupaten Semarang dan Boyolali pada tahun 1990 menggunakan vaksin Anthrax produksi Pusat Veterina Farma Surabaya. Pemberian secara subkutan dengan dosis pemberian 1 ml. Pada saat itu sapi yang akan divaksin dikelompokkan  menjadi tiga kelompok  yaitu: kelompok yang benar-benar sehat dan siap divaksin, kelompok yang sakit/tidak sehat diberi  pengobatan dahulu dan kelompok ketiga adalah  kelompok tidak divaksin yaitu pedet dan sapi bunting. Kematian sangat tinggi mencapai 494 ekor sapi yang menunjukkan sakit dan 209 ekor sapi mati secara mendadak  pada bulan Mei 1990.Kematian  menurun satu bulan berikutnya pada bulan Juni setelah dilakukan vaksinasi yaitu 238 ekor karena sakit dan 70 ekor mati mendadak, dan turun drastis pada bulan agustus 1990 hanya 8 ekor mati karena sakitdan 2 ekor mati mendadak (ANON, 1990). Vaksinasi pada kambing dan domba diwilayah Sleman Yogyakarta yang dilakukan pada bulan Oktober 2004 menggunakan vaksin produksi Pusat Veterina Farma Surabaya, secara subkutan dan menggunakan dosis ½ ml.
Hasil vaksinasi Anthrax pada kambing dan domba pada tahun 2004 di wilayah Yogyakarta, dari kurang lebih 800 ekor yang divaksin terjadi kematian setelah vaksinasi kurang  lebih 54 ekor atau sekitar 6,7%. Sementara hasil vaksinasi pada kambing dan domba di wilayah Bogor dalam waktu yang hampir bersamaan dari laporan  tidak ditemukan kematian, meski ada beberapa ekor yang  mengalami sakit setelah vaksinasi tersebut. Dari hasil ini tampak berbeda sekali hasil atau pun dampak dari vaksinasi anthrax antara sapi dan kambing/domba. Dari hasil pantauan di lapangan banyak kambing dan domba setelah divaksin Anthrax sebelum  mati menunjukkan gejala–gejala antara lain kebengkakan di dekat rectum dan dibawah ekor. Menurut ANON 2002,  kambing/domba  memang  lebih mudah/cenderung menampakkan reaksi terhadap vaksin Anthrax (post-vaccinal reaction).
Untuk menyikapi hal itu beberapa perusahaan menyarankan pemberian vaksin Anthrax pada kambing/domba dibagi menjadi dua kali pemberian. Pemberian pertama sebanyak seperempat dosis dari standar yang direkomendasikan (1 dosis = ½ ml) sebagai“pre-inoculation dose” dan pemberian ke dua dengan selang waktu 1 bulan sebanyak 1 dosis yang dianjurkan. Vaksinasi pada kambing/domba ini disuntikkan secara subkutan disebalik ekor pada tempat yang kering dan bersih. Menyimak  kejadian kematian kambing/domba setelah vaksinasi Anthrax ini, perlu kiranya untuk lebih berhati-hati dalam  pelaksanaan  vaksinasi anthrax terhadap hewan-hewan tersebut.



I.            PENUTUP
Kesimpulan
Vaksinasi merupakan salah satu cara yang dipergunakan untuk pencegahan penyakit Anthrax.  Vaksin pertama kali dibuat oleh PASTEUR (1879). Pasteur menemukan bahwa inkubasi bakteri pada suhu 420C akan menyebabkan penurunan sifat virulensi bakteri ini.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam vaksinasi Anthrax antara lain penyimpanan vaksin tidak boleh di frezzer tetapi di refrigeratornya . Hewan-hewan yang sedang dalam pengobatan antibiotika tidak diijinkan untuk divaksin Anthrax misalnya sapi perah dalam pengobatan karena mastitis. Hewan yang akan dipotong dalam waktu minimal 6 minggu sebelumnya tidak boleh divaksin.

Saran
Saran yang dapat saya sampaikan adalah kiranya para peternak lebih memperhatikan kesehatan ternak mereka, ketika ada ternak yang sakit dapat langsung diobati/vaksin agar mengurangi resiko kematian pada ternak.



DAFTAR PUSTAKA
ANONNIM. 2004a. Humidity Test May Unmask Anthrax Spores. http://www.meridianhealth.com/index.cfm/MediaRelations?News?BreakingNews/anthrax.html
ANONNIM. 2004b. Anthrax Toxin: Deadly Triumvirate of anthrax. Applied Science and Analysis, Inc. THE ASA Neewslatter.http://www.asanltr.com/newsletter/03-3/articles/Anthrax.html.
ANONNIM. 2004c. Anthrax. Media centre. World Health Organization. http://www.who.int/ mediacentre/factsheets/fs264/en/.
ANONNIM. 2004d. Guidelines for the Surveillance and Control of Anthrax in Humans and Animals. WHO/EMC/ZDI/98.6
ANONNIM. 2004e. Anthrax – Biological Agent. http://www.arches.uga.edu/-fl50ga/Patho.html
ANONNIM. 2002a. Pedoman dan Protap Penatalaksanaan Kasus Anthraks di Indonesia.
ANONNIM. 2001a. Anthrax. APHIS Veterinary Services. November 2001.
ANONNIM. 2001b. Anthrax Disease Information. http://www.cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/ anthrax-g.htm.
ANONNIM. 2001c. Fact Sheet Anthrax. Labor SPIEZ.
ANONNIM. 2000. Anthrax Vaccine. U.S. Departement of Health and Human Services. Centers for Diseases Control and Prevention National Immunization Program.
ANONNIM. 1990. Proceeding Seminar. Rabies, Zoonosa, dan Anthrax. Kerjasama Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro dan Perhimpunan dokter Hewan Indonesia.
BISPING, W and G. AMTSBERG. 1988. Colour Atlas for the Diagnosis of Bacterial Pathogens in Animals. Paul Parery Scientific Publishers.
Berlin and Hamburg. P 72-78 CHRISTIE, A.B. 1980. Infectious Diseases: Epidemiology and Clinical Practice. Third Edition, Churchill Livingstone, Eidenburg, London, Melbourne and New York.
DRAGON, D.C., and RENNIE, R.P. 1995. The Ecology of Anthrax spores: tough but not invincible. Can Vet 36, 295-301.
GEISSLER E. 1998a: Conversion of former BTW facilities, lessons from German history. IN: GEISSLER E (Eds.): Conversion of former BTW facilities. Kluwer Academic Publisher, Dordrecht, pp. 53-66.
GEISSLER E 1998b: Hitler und die Biowaffen. LIT, Munster, pp. 298 GYLES, C.L and C.O. THOEN. 1993. Pathogenesis of Bacterial Infections in Animals. J.W.
EZZELS, JR and C.L. WILHELMSEN. Bacillus anthracis. Second editian. Iowa State University Press. P 36-41.
HELGASON, E., OKSTAD, O.A., CAUGANT D.A., JOHANSEN H.A., FOUET, A., MOCK, M., HEGNA, and I., KOLSTO, A.B. 2000. Bacillus anthracis, Bacillus cereus and Bacillus thuringensis- one species on the basis of genetic evidence. Appl Environ Microbiol 66, 2627-2630.

Selasa, 17 September 2013

Manajemen Agribisnis



A.   Definisi Saluran Pemasaran
Saluran Pemasaran adalah marketing channels yaitu orang atau badan yang menjadi penghubung dalam proses pengalihan, pemilikan, dan penyampaian barang dari produsen kepada konsumen.
Banyak produsen yang membuat suatu produk tidak menjual secara langsung produknya kepada konsumen akhir (end user), pertimbangan biaya distribusi biasanya menjadi faktor utama perusahaan memilih tidak mendistribusikanya sendirian ke konsumen akhir terutama untuk wilayah pemasaran yang belum tercover oleh perusahaan. Diantara produsen dan konsumen ada sekelompok perantara yang menyalurkan produk diantara mereka. Perantara ini sering disebut dengan saluran pemasaran. Saluran pemsaran adalah organisasi – organisasi yang saling tergantung yang tercakup dalam proses yang membuat produk dan jasa menjadi tersedia untuk digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen.1 Perangkat ini lah yang menjadi alur lintas produk dari produsen ke konsumen setelah diproduksi.
Perantara pemasaran produk ini bermacam macam dan biasanya bertingkat. Untuk tingkat pertama biasanya di tempati perwakilan wilayah yang biasanya perusahaan sendiri menanganinya. Kemuadian ada agen tunggal yang mencangkup daerah pemasaran lebih kecil. Perlu diingat agen juga merupakan perwakilan perusahaan juga karena bisa bertindak atas nama perusahaan Selanjutnya biasanya disusul oleh pedagang biasa yang menjual tidak hanya satu produk perusahaan. Di tingkat ini bisanya sudah sampai ke konsumen akhir tetapi ada juga yang disalurkan ke tingkat yang lebih kecil lagi seperti warung –warung yang kemudian bisa dipakai langsung oleh konsumen akhir.
Selain perantara distribusi ada satu lagi perantara penting walaupun tidak melakukan penjualan langsung namun punya andil dalam menyampaikan barang ke konsumen yaitu fasilitator seperti agen iklan, distributor, bank dan lain-lain.
Keputusan memilih saluran pemasran adalah salah satu keputusan penting dalam pemasaran. Saluran pemasaran salah satu yang mementukan keputusan pemasaran yang lainnya seperti dalam hal penetapan harga produk (pricing) sangat ditentukan keputusan ini. Ketika perusahaan memilih memasarkan di toko terbatas pasti harganya pun tinggi karena ada nilai eksklusifitas. Berbeda ketika perusahaan memasarkan di toko secara massal pasti harganya pun lebih murah Perlu diingat juga saluran pemasaran tidak hanya melayani pasar tetapi juga menciptakan pasar.2

Strategi Saluran Pemasaran
Menurut Kottler (2006) dalam bukunya manajemen pemasaran mengemukakan ada dua strategi yang sering digunakan perusahaan dalam mengelola saluran pemasaran terutama dalam penciptaan saluran pemasaran baru, yaitu strategi dorong dan strategi tarik. Pemakaian strategi ini tergantung keputusan perusahaan terutama tergantung popularitas produk perusahaan tersebut.
Strategi dorong dalam pelaksanaanya adalah mencoba membujuk perantara agar mau memasarkan produknya dengan memberikan fasilitas fasilitas tertentu misal potongan yang tinggi dalam pembelian produk. Strategi ini cocok dilakukan untuk produk yang loyalitas mereknya masih rendah dan pilihan merek dilakukan ditoko. Strategi ini cocok untuk produk baru yang mempunyai dana promosi terbatas, sehingga mencoba menggunakan salauran pemasaran yang sudah berpengalaman dalam memasarkan berbagai produk.
Strategi tarik dalam pelaksanaanya adalah dengan cara perusahaan membangun positioning produk melalui promosi ke konsumen seperti iklan media cetak, elektronik atau melalui even even. Sehingga dengan fokus kepada promosi akan membuat konsumen tertarik untuk mencoba. Permintaan konsumen terhadap produk yang diiklankan biasanya menarik banyak perusahaan ingin menjadi agen atau salah satu saluran pemasaranya. Apabila sudah demikian perusahaan akan mempunyai daya tawar terhadap perantara. Karena banyaknya calon agen yang mengajukan sebagai perntara produk, membuat perusahaan bisa memilih calon agen yang mempunyai cakupan wilayah pemasaran yang luas seingga produk akancepat menyebar. Jadi bedanya, strategi ini dengan strategi dorong adalah permintaan menyalurkan produk berasal dari perantara sendiri sebagai dampak dari permintaan konsumen terhadap produk.

Peran Saluran Pemasaran
Ada beberapa hal yang mendorong perusahaan membuat keputusan mendelegasikan sebagian tugas penjualanya kepada perantara. Namun perusahaan mendapatkan keuntungan dari keputusan tersebut yakni:
·         Banyak produsen tidak memiliki sumberdaya keuangan untuk melakukan pemasaran langsung sehingga hanya bisa fokus ke produksi
·         Para produsen yang memang mendirikan saluranya sendiri sering dapat memperoleh laba yang lebih besar dengan meningkatkan investasinya dalam bisnis utamanya dari pada mengeluarkan biaya untuk pemasaran produknya
·         Dalam beberapa kasus pemasaran langsung sama sekali tidak dapat dilakukan menjual secara eceran langsung ke konsumen.

Tingkat Saluran
Produsen dan konsumen memang bagian utama dari saluran pemasaran. Namun kita perlu mengetahui jumlah perantara produk hingga sampai ke konsumen sehingga dapat ditentukan tingkat saluranya. Menurut kotler ada dua jenis saluran pemasaran dengan masing masing empat tingkatan saluran yaitu :
1.      Saluran Pemasaran Konsumen yang memiliki empat tingkatan yaitu tingkat nol, tingkat satu, tingkat dua, tingkat tiga.
2.      Saluran Pemasaran Industri yang memiliki empat tingkatan yaitu tingkat nol, satu,dua dan tiga.

Strategi Distribusi
Strategi distribusi adalah hal yang perlu dipikirkan secara tepat sesuai dengan tujuan perushaan mengenai produknya. Apakah akan dijual eksklusif atau dijual masal dengan harga rendah. Berikut tiga strategi distribusi yang sering digunakan perusahaan dalam mendistribusikan produknya.

1. Distribusi Eksklusif
Strategi ini dalam prakteknya adalah dengan membatasi perantara produk demi menjaga eksklusifitas produk dan menjaga harga produk agar tetap tinggi. Biasanya ada perjanjian eksklusif antara produsen dan perantara utama sebagai pemegang lisensi. Sistem penjualan nya pun sangat menjaga citra produk agar harga produk tidak turun.

2. Distribusi Selektif
Strategi ini dengan menggunakan beberapa perantara yang mempunyai jangkauan pemasaran luas sehingga perusahaan tidak perlu mendirikan gerai dimana mana karena akan berakibat tidak efisien dan akan menurunkan harga

3. Distribusi Intensif
Strategi ini menggunakan banyak perantara dalam pemasaran produk dari produsen. Pendirian banyak gerai menjadi strategi utama dalam meningkatkan penjualan produk. Konsekuensi bagi perusahaan yang memakai strategi ini harus menerima resiko perang harga antar gerai karena tiap gerai saling berkompetisi mendapatkan pelanggan dengan produk yang sama.

B.   Fungsi Pemasaran
Fungsi Pemasaran adalah kegiatan utama yang khusus dilaksanakan untuk menyelesaikan proses pemasaran. Fungsi pemasaran bekerja melalui lembaga pemasaran atau stuktur pemasaran. Dengan perkataan lain fungsi tataniaga ini harus ditampung dan dipecahkan oleh produsen dan mata rantai saluran barang-barangnya, lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam proses pemasaran misalnya usaha pengangkutan, bank, badan asuransi, dan sebagainya maupun konsumen.

Fungsi Pemasaran dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu :
1. Fungsi Pertukaran
Dengan pemasaran pembeli dapat membeli produk dari produsen baik dengan menukar uang dengan produk maupun pertukaran produk dengan produk (barter) untuk dipakai sendiri atau untuk dijual kembali.
2. Fungsi Distribusi Fisik
Distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan cara mengangkut serta menyimpan produk. Produk diangkut dari produsen mendekati kebutuhan konsumen dengan banyak cara baik melalui air, darat, udara, dsb. Penyimpanan produk mengedepankan menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan.

3. Fungsi Perantara
Untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen dapat dilakukan pelalui perantara pemasaran yang menghubungkan aktivitas pertukaran dengan distribusi fisik. Aktivitas fungsi perantara antara lain seperti pengurangan resiko, pembiayaan, pencarian informasi serta standarisasi / penggolongan produk.

C.   Efisiensi Pemasaran
Efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan.
Pengertian efisiensi menurut Mulyamah (1987;3) yaitu Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukan dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataam lain penggunaan yang sebenarnya. Sedangkan pengertian efisiensi menurut SP. Hasibuan (1984;233-4) yang mengutip pernyataan H. Emerson adalah Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Dengan kata lain hubungan antara apa yang telah diselesaikan. Dan menurut Soekartawi (1989:29), mengemukakan bahwa efisiensi pemasaran akan terjadi jika :
1.      Biaya pemasaran bisa ditekan sehingga ada keuntungan.
2.      Pemasaran dapat lebih tinggi.
3.      Prosentase pembedaan harga yang dibayarkan konsumen dan produsen tidak terlalu tinggi.
4.      Tersedianya fasilitas fisik pemasaran.
Adapun untuk mencari tingkat efisiensi dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Efisiensi = Input Target/Input Aktual >=1
·         Jika input yang ditargetkan berbanding input aktual lebih besar atau sama dengan 1 (satu), maka akan terjadi efisiensi.
·         Jika input yang ditargetkan berbanding input aktual kurang daripada 1 (satu), maka efisiensi tidak tercapai.

D.   ResikoPemasaran
Risiko pasar  yaitu bentuk tekanan yang terjadi ketika ada pergerakan harga pasar, seperti nilai sekuritas, valuta asing, harga komoditi mapupun tingkat suku bunga. Risiko pasar adalah potensi kerugian yang disebabkan oleh perubahan harga-harga pasar dan yields. Risiko pasar sangat berkaitan dengan pinjaman nasabah Bank, deposito, aktivitas perdagangan, surat-surat berharga dan produk derivatif. Risiko pasar dikelola dalam batas risiko secara menyeluruh dan menggunakan teknik lindung nilai ( hedging). Seluruh aktivitas perdagangan sehubungan pada pertukaran mata uang asing, derivatif, pasar uang dan surat-surat berharga dipantau setiap hari dan dikaji dengan basis mark to market sesuai batas yang ditetapkan oleh Komite Risiko Pasar dan sejalan dengan peraturan Bank Indonesia.
Risiko Pasar sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/13/PBI/2007 Tentang Kewajiban Penyediaan modal Minimum Bank Umum Dengan Memperhitungkan Risiko Pasar yaitu adalah risiko kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Ada empat faktor standar risiko pasar, antar lain adalah :
a.      Risiko Modal
Adalah bagian hak pemilik dalam perusahaan (investasi pemilik) secara terbatas yang merupakan selisih aktiva dan kewajiban, bergantung pada bentuk badan usaha ysng dapat berbentuk Propriethorship (perorangan), Partnership (CV, Fa) maupun Corporation (perseroan).

b. Risiko suku bunga
 Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya. Risiko suku bunga umumnya diukur dengan jangka waktu obligasi, teknik paling tua yang sekarang digunakan untuk mengelola risiko suku bunga. Pengelolaan harta dan kewajiban adalah suatu nama yang umum digunakan untuk rangkaian lengkap teknik-teknik yang digunakan untuk mengelola resiko dalam suatu kerangka kerja manajemen risiko perusahaan. Atau disebutkan sebagai risiko kerugian akibat perubahan harga instrumen keuangan dari posisi Trading Book yang disebabkan oleh perubahan suku bunga.

c. Risiko mata uang
Risiko nilai tukar atau risiko mata uang adalah suatu bentuk risiko yang muncul karena perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang yang lain. Suatu perusahaan atau pemodal yang memiliki aktiva atau operasi bisnis lintas negara akan memperoleh risiko ini jika tidak menerapkan lindung nilai (hedging). Risiko nilai tukar yang terkait dengan instrumen mata uang asing penting diperhatikan dalam investasi asing. Risiko ini muncul karena perbedaan kebijakan moneter dan pertumbuhan produktivitas nyata, yang akan mengakibatkan perbedaan laju inflasi.

d. Risiko komoditas
Adalah risiko kerugian akibat perubahan harga instrumen keuangan dari posisi Trading Book dan Banking Book yang disebabkan oleh perubahan harga komoditas.
Batman Begins - Diagonal Resize 2

iklan


animasi bergerak naruto dan onepiece