WELCOME TO MY BLOG
| | | | |
TEGAKKAN SYARI'AH DAN KHILAFAH ISLAMIYAH

Minggu, 01 Juni 2014

Saatnya Khilafah Menggantikan Demokrasi



Islam yang dipegang oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya, dan seluruh generasi terbaik setelahnya. Termasuk islam yang dipegang oleh para panglima besar islam semisal Muhammad Al;Fatih, Thariq bin ziyad, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Islam yang bukan hanya hiasan dan asesoris kehidupan, islam yang mencerahkan dan membangkitkan, islam yang sempurna, islam yang kaaffah. Mereka menjadikan islam lebih dari sekedar inspirasi, sebagai ideologi kehidupan.
Islam yang diterapkan Rasulullah saw bukanlah islam yang menganggap bahwa Allah hanya pantas dimuliakan dimasjid ataupun pada bulan Ramadhan saja. Bukan pula islam yang menaruh allah hanya pada ranah individual, sedangkan dalam ranah sosial kenegaraan, Allah dipinggirkan. Islam yang di terapkan Rasulullah saw adalah islam yang total, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam sosial kenegaraan.
Kunci keberhasilan Rasulullah saw dalam membina generasi-generasi terbaik adalah dengan menghujamkan aqidah yang kuat kepada kaum muslim. Aqidah yang diperoleh melalui jalan berpikir sehingga memuaskan akal dan menentramkan hati, serta dengan bukti-bukti yang sangat nyata.
Rasulullah saw pun memberikan contoh yang sangat nyata bahwa setiap aqidah yang benar, pasti menjadikan pengembannya selalu ingin terikat dangan hukum-hukum Allah, karena pengemban aqidah islam memahami bahwa Allah telah menurunkan aturan yang khas bagi manusia dalam rangka mengatur penghambaan kepadanya. Penghambaan manusia kepada Allah tidak hanya dalam ibadah ritual semacam shalat, dan puasa, tapi mencakup juga dalam masalah ekonomi, sosial budaya, pemerintahan, politik dsb.
Inilah takdir bagi setiap insan yang telah bersyahadat, yaitu menjalani hidupnya sesuai dengan perintah Allah semata, mengelola bumi dan manusia seperti yang dia perintahkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasul-Nya. Dengan logika ini, maka setiap kerusakan yang kita lihat didunia ini, pastilah ulah tangan manusia yang enggan menjalankan perintah Allah dalam setiap sendi kehidupannya.
Sesungguhnya tidak ada cara lain bagi orang yang berfikir sehat, dan tidak ada pilihan lain bagi orang muslim, bahwa satu-satunya solusi bagi keterpurukan ummat saat ini adalah mengembalikkan aqidah dan syariat islam dalam tubuh ummat agar mereka bangkit sebagimana Rasulullah saw membangkitkan umat muslim. Penerapan hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah seharusnya menjadi harga mati bagi orang-orang yang memahami aqidah dan syariat islam.

Sayangnya, islam yang dicontohkan Nabi Muhammad saw yang menyatu dalam kedua sisi, baik sisi politis maupun spiritual, tidak banyak dipahami oleh masyarakat. Bahkan, tokoh-tokoh yang dianggap sebagai sumber pengetahuan islam pun menganggap bahwa ide bersatunya politik dan spiritual islam bukan berasal dari khazanah ilmu islam. Bahkan, berkembang diantara kaum muslim pernyataan di dalam bibel :
“Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”(Matius 22:21).
Tampaknya sekulerisme telah sukses merasuk ke dalam jiwa umat islam, menjadikan umat memandang bahwa islam hanyalah pengatur ibadah dan akhirnya membuat ummat berdalil dengan hujjah yang bukan berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan pula dari sahabat maupun ilmuwan islam.
Rasulullah saw sendiri telah mengatur bagaimana penjagaan syariah islam melalui kekuasaan dengan sabdanya yang mulia:
“Dahulu bani israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, digantikan oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Tetapi nanti akan ada banyak khalifah. Para sahabat bertanya, Apa yang engkau perintahkan kepada kami?. Beliau menjawab, penuhilah bai’at yang pertama, dan yang pertama saja. Berikanlah hak mereka, sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap urusan yang dibebankan kepada mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).
            Para nabi Allah sejatinya melakukan aktivitas politik atau aktivitas pengurusan ummatnya. Begitupun Rasulullah saw melakukan aktivitas politik dalam pengurusan ummatnya dengan menjadi kepala negara di Madinah Al-Munawarrah. Rasul menjelaskan bahwa sepeninggalnya tidak ada lagi nabi, sehingga kepengurusan ummat diteruskan oleh para khalifah.
            Inilah kekuasaan yang dimaksud dalam islam, yang dapat menjamin diterapkannya hukum Allah diatas muka bumi dan memberikan kesejahteraan serta keadilan dan rahmat seluruh alam. Dan rasul pun tidak pernah memerintahkan, mewajibkan, atau mencontohkan sitem lain dalam kekuasaan kecuali dengan sistem khilafah. Ketiadaan khilafah ini sudah pasti akan membuat syariat islam tidak dapat diterapkan, yang akhirnya menyebabkan kehancuran ekonomi, kerusakan sosial budaya dan politik, matinya keadilan dan hukum sebagai hasil tidak diterapkannya hukum islam. Maka wajarlah imam Mawardi menegaskan dalam kitabnya Ahkamus Sulthaniyyah.
“Mengangkat imam (khalifah) bagi yang menegakannya di tengah-tengah umat merupakan kewajiban berdasarkan ijma”
Ketika terwujud kepemimpinan islam untuk seluruh ummat muslim diseluruh dunia dengan adanya khilafah, islam akan menunjukan jatidiri yang sebenarnya. Dengan khilafah inilah, akan terwujud persatuan kaum muslim yang hakiki. Dengan kepemimpinan islam ini, dilahirkanlah salaf yang memegang teguh islam. Dalam kepemimpinan ini konstantinopel dibebaskan oleh kaum muslim. Dengan kepemimpinan ini pula insya Allah Roma akan dibebaskan kaum muslim. Maka sesungguhnya tiada perkataan yang lebih mulia dibandingkan dengan muslim yang mendakwahkan islam dan berupaya untuk meninggikan kalimat Allah lewat penerapan islam sempurna dibawah panji syahadat dalam naungan khilafah.
Akhirnya, bila dalam pembebasan konstantinopel kaum muslim harus bersabar sekitar 825 tahun, dan dalam rentang waktu itu, ulama tidak henti-hentinya menyemangati, mendorong, bahkan terjun ke medan jihad untuk menggapai bisyarah Rasulullah saw, dan akhirnya semua keberanian, ketaatan dan kesabaran terakumulasi pada seorang Muhammad Al-Fatih. Allah pun mengizinkan kaum muslim menyaksikan kebenaran bisyarah tersebut melalui pemuda 21 tahun itu.
Dan masih ada bisyarah rasul tentang pembebasan Romawi Barat yang dilambangkan dengan kota Roma. Karena itu, bagi kaum muslim yang meyakini janni Allah, pembebasan kota Roma sebenarnya telah terjadi karena rasul telah menyampaikannya. Kenyataannya hanya tinggal menunggu waktu saja. Pertanyaannya adalah “Siapa yang akan lebih dulu merealisasikan bisyarah itu!”.
Niscaya suatu saat nanti akan ada seorang pemuda yang akan memasuki gerbang kota Roma sambil menggenggam bendera putih bertuliskan kalimat syahadat. Dia berjalan perlahan menuju tengah kota dengan keimanan dan kerendahan hati. Lisannya basah oleh kalimat dzikir dan ucapan syukur atas nikmat yang diterimanya dari tuhannya, dan dia pun berkata :
“Alhamdulillah, inilah janji Rasul-ku dan Tuhan-ku kepadaku dan seluruh ummat muslim, sungguh aku telah melihat hal ini jauh sebelum mataku melihatnya. Maka sabda Rasul telah aku genapkan, dan janji Allah telah aku buktikan”.
            Pada saat yang sama, dia melihat panji Rasulullah saw yang berwarna hitam dan putihnya berkibar gagah diseluruh bumi dari timur hingga barat.
            Bangkitlah kaum muslim, kota roma menanti kita!, Insya Allah dia akan dibebaskan dengan pemimpin dan pasukan sekualitas Muhammad Al-Fatih dan pasukannya. Roma akan ditaklukan di bawah panji syahadatin pada masa khilafah. 

Dakwah Para Pewaris Nabi



 Ketika umat Islam sudah tak kenal lagi agamanya, ketika ajaran Islam sudah tak diindahkan lagi, ketika Syariah Islam dicampakkan di tempat sampah, kita butuh dakwah. Dakwah yang akan mengembalikan kesadaran umat Islam akan pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai petunjuk hidup. Dakwah yang akan membuka mata dunia bahwa hanya pada Islam lah terdapat kebahagiaan sejati dan keselamatan. Dakwah yang bertujuan untuk mengembalikan kehidupan Islam seperti kehidupan pada masa Rasulullah SAW dan para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum.
            Dakwah merupakan aktivitas yang teramat mulia, bahkan pekerjaan yang paling mulia. Aktivitas ini merupakan aktivitas utama para Nabi dan Rasul di setiap zaman, dan adakah manusia yang lebih baik daripada para Nabi dan Rasul?. Sebuah keniscayaan, setiap orang yang meneladani aktivitas para Nabi dan Rasul tersebut tentu juga akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Tapi, apakah setiap orang yang berdakwah akan mendapatkan kemuliaan seperti para Nabi dan Rasul? Apakah setiap orang yang menyandang status pengemban dakwah berarti mereka adalah orang yang mulia?
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (agama) Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk golongan orang-orang muslimin.” [QS. Fushshilat: 33].
Ayat di atas merupakan salah satu dalil yang menunjukkan kemuliaan para pengemban dakwah. Betapa tidak, dengan sebuah pertanyaan retoris, Allah menyatakan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik dari pada kata-kata dakwah. Luar biasa. Berarti secara otomatis, setiap pengemban dakwah adalah orang mulia yang melakukan pekerjaan besar dan terbaik di sisi Allah. Iya kan ?.
Dalam kitab Riyadush Shalihin yang sangat terkenal itu, terdapat hadits yang juga sangat dikenal dan dicantumkan di urutan pertama kitab kumpulan Hadits tersebut. Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang jalur sanadnya sampai pada Rasulullah melalui Umar bin Khattab, Amirul Mu’minin, menyatakan bahwa setiap amal (tentu yang dimaksud adalah semua amal yang baik) akan mendapatkan nilai di sisi Allah tergantung dari niat pelakunya. Jika amal tersebut diniatkan untuk mengharapkan Ridha Allah, maka pelakunya akan mendapatkan Ridha Allah dan surga-Nya di akhirat kelak. Tapi, jika amal tersebut diniatkan karena selain Allah, maka jangan pernah berharap mampu melihat wajah Allah di surga kelak. Amal yang dimaksud hadits ini bersifat umum, termasuk amal dakwah.
Para pengemban dakwah pun juga terkena kewajiban untuk ikhlas dalam amal dakwahnya. Tidak boleh berdakwah, kecuali dengan niat mengharapkan Ridha Allah. Rasanya ini sudah sangat dipahami oleh semua da’i. Setiap da’i tentu telah tahu bahwa dalam setiap amalnya dia harus ikhlas. Tapi, begitu mudahkah sifat ikhlas tersebut mengikuti amal dakwah?.
Pernah terdengar satu kalimat yang diucapkan oleh seorang yang menyandang status pengemban dakwah. Dan rasanya kalimat ini perlu ditelaah kembali kebenarannya. Aktivitas dakwah ini ternyata memang mengharuskan keikhlasan, bahkan kita susah untuk tidak ikhlas. Bahkan kita susah untuk tidak ikhlas, inilah kalimat tersebut. Benarkah dalam aktivitas dakwahnya, setiap pengemban dakwah susah untuk tidak ikhlas? Berarti mereka telah menilai bahwa mereka adalah orang yang ikhlas?.
            Entah seperti apa jalur periwayatan kalimat ini, yang jelas kalimat ini bukan cuma dikatakan oleh satu orang. Bahkan, kalimat ini seakan-akan merupakan sebuah slogan untuk membesarkan hati para pengemban dakwah, sebuah kalimat motivasi. Yang menjadi pertanyaan, apakah kalimat ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya?
            Kalimat tersebut biasanya keluar dalam kondisi kelelahan dalam menjalankan aktivitas dakwah berjamaah. Kita sudah sangat paham, salah satu karakteristik dakwah berjamaah yang selama ini dipahami adalah bahwa tidak setiap pengemban dakwah harus bicara di depan umum. Berdakwah bisa dengan menjadi panitia sebuah seminar dakwah, misalnya seksi konsumsi, yang tak ada hubungannya dengan cuap-cuap di hadapan orang banyak. Biasanya juga, orang-orang yang menjadi panitia kegiatan tersebut, apalagi yang hanya menjadi anggota seksi, adalah orang yang termarjinalkan. Tidak seperti sang pembicara seminar yang mendapatkan tepuk tangan meriah plus amplop tipis, atau ketua panitia yang mendapat pujian selangit jika acara seminar berlangsung sukses, anggota seksi tak pernah mendapatkan keberuntungan tersebut. Paling baik, mendapatkan ucapan terima kasih dan terhindar dari kemarahan ketua panitia. Dalam kondisi seperti itu, mencuatlah kalimat tersebut sebagai motivasi agar tidak futur.
Kondisi lain misalnya adalah ketika seorang ketua umum lembaga dakwah, ketika menyiapkan sebuah kegiatan dakwah yang cukup besar ternyata tak mendapatkan dukungan dari yang lain. Dari menjadi ketua panitia, memimpin rapat, menjadi seksi konsumsi sampai menjadi mc harus dilakukan oleh dirinya sendiri. Akhirnya untuk menghibur diri, keluarlah kalimat tersebut dari lisannya. Pertanyaannya sekarang, dalam kondisi seperti itu, apakah ucapan tersebut benar-benar menunjukkan keikhlasannya atau sekedar untuk menutupi kekecewaan dirinya karena tak mendapatkan penghargaan yang semestinya?.
Jawabannya memang tidak bisa kita tentukan, itu kembali ke masing-masing orang. Apalagi keikhlasan adalah urusan hati yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Tapi, bahwa kalimat seperti itu benar seratus persen, sepertinya juga perlu dikoreksi. Keikhlasan tidak bisa hanya diukur dari kepasrahan (kesabaran?) seseorang ketika dalam menjalankan aktivitas dakwahnya ia tidak mendapatkan penghargaan seperti orang lain. Banyak sekali alasan yang bisa diajukan yang mungkin menjadi penyebab kepasrahan orang tersebut selain keikhlasan. Ada orang yang terpaksa menerima begitu saja keadaan dirinya karena khawatir kalau ia memberontak atau menunjukkan ketidak senangan ia akan dikucilkan dari komunitasnya, yaitu komunitas pengemban dakwah. Perlu diketahui, sangat banyak orang yang lebih takut dikucilkan dari sebuah komunitas yang ia eksis didalamnya daripada takut kehilangan harta. Dengan alasan takut dikucilkan, ia kemudian menunjukkan sikap pasrah yang kemudian dikatakan sebagai sikap ikhlas.
Sekarang, kita tilik secara umum, benarkah para pengemban dakwah sangat susah dihinggapi ketidak ikhlasan atau malah sebaliknya. Satu contoh, ada satu orang aktivis dakwah yang menjadi trainer terkenal. Setiap mengisi training ia selalu mampu menghipnotis ratusan peserta untuk menerima apa saja yang ia katakan. Imbalannya, ia mendapatkan sanjung puji dari banyak pihak. Banyak tokoh yang merekomendasikannya. Dengan kondisi seperti ini, kucuran uang juga tak terhindarkan. Pada kasus seperti ini, apakah tepat kalimat susah untuk tidak ikhlas. Dikelilingi oleh berbagai faktor yang mudah memalingkan seseorang dari keikhlasan seperti uang, sanjung puji, dan dikenal banyak orang bak selebritis apakah masih tepat kalimat bahwa pengemban dakwah susah untuk tidak ikhlas.
Dengan status sebagai trainer terkenal, kadang-kadang sang trainer tidak bersedia menjadi trainer untuk training kecil yang pesertanya mungkin masih bisa dihitung dengan jari, dengan alasan memberi kesempatan kepada yang lain. Kecurigaan wajar muncul di pikiran kita, jangan-jangan dia telah bersikap seperti artis top yang tak mau berperan di peran-peran kecil atau berperan di film kurang bermutu. Mungkin dengan alasan sama, agar status kehebatannya tak tercemar dengan menjadi trainer di kegiatan training level rendah.
Itu satu contoh. Bagaimana dengan kebanggaan seseorang memakai status kiyai haji, ustadz, motivator, ustadz gaul, dll. Apakah pengakuan orang tentang status mereka yang ingin didapatkan atau keridhaan Allah SWT. Bagaimana pula dengan orang yang menghidupi dirinya dengan aktivitas dakwah. Menjadi trainer di acara training A mendapatkan bayaran 1 juta, lima kali mengisi training dalam sebulan sudah lima juta yang didapatkan, lebih besar daripada gaji guru. Jadi imam tarawih, sekali dapat 100 ribu, bagaimana jika setiap malam dia menjadi imam tarawih, berapa fulus yang didapatkan. Belum lagi ditambah mengisi pengajian setelah shubuh dan pengajian-pengajian lainnya. Apakah dengan kondisi itu, pengemban dakwah masih susah untuk tidak ikhlas?.
Ya, harus kita akui, ternyata menjadi pengemban dakwah sangat rentan dengan ketidak ikhlasan. Perubahan niat mudah sekali terjadi dengan banyaknya godaan duniawi di sekitar pengemban dakwah. Maka, mudah-mudahan kita bisa menjadi pengemban dakwah yang selalu ikhlas dalam setiap aktivitas kita dan benar-benar layak menjadi pewaris Nabi SAW.

An Introduction To Khilafah Islamiyah



Islam sebagai sebuah ideologi, tidak hanya mengatur persoalan ritual belaka. Tidak seperti agama lainnya, Islam secara komprehensif mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesama manusia. Ideologi Islam, seperti ideologi-ideologi yang lain akan berusaha melahirkan sebuah peradaban yang berasal dari ideologi tersebut. Ideologi Islam juga tentu akan berusaha mewujudkan sebuah negara yang akan menerapkan ideologi tersebut.
Fakta empiris menunjukkan bahwa ideologi Islam bukan hanya terkungkung pada konsep, tetapi telah terbukti mampu menjadi sebuah ideologi yang memimpin dunia tatkala ia diterapkan dan disebarkan oleh kekuatan besar, yaitu Daulah Islamiyah. Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama kali didirikan oleh Rasulullah SAW pasca hijrah beliau ke Madinah, pada tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M. Negara ini terus berlanjut setelah wafatnya Rasulullah SAW dengan format Khilafah Islamiyah. Kepemimpinan Khilafah Islamiyah terus berlanjut dengan kegemilangannya, sampai diruntuhkan oleh kaki tangan Inggris, Mustafa Kemal Pasha, di Turki pada tanggal 3 Maret 1924 M.
Walaupun sekarang Khilafah Islamiyah sudah tidak ada, perjuangan penegakan kembali Khilafah Islamiyah tetap kencang diupayakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hal ini wajar, paling tidak karena dua alasan. Pertama, keberadaan Khilafah Islamiyah merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam, dan meruntuhkannya merupakan sebuah dosa yang teramat besar. Keberadaan Khilafah, merupakan keniscayaan agar Syariah Islam bisa diterapkan di muka bumi. Allah SWT berfirman: “Maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (QS Al Maa`idah: 48).
Dalil dari Al-Qur’an ini semakin diperkuat dengan dalil dari As-Sunnah yang menekankan pentingnya bai’at kepada seorang Khalifah, dan dalil dari Ijma’ Shahabat yang menegaskan kewajiban mewujudkan Khilafah Islamiyah dan mengangkat seorang Khalifah bagi seluruh umat Islam. Ijma’ Shahabat ini terbukti dari penangguhan mereka dalam prosesi pemakaman Rasulullah SAW untuk memilih Khalifah, sebagai kepala Negara Islam, pengganti Rasulullah SAW.
Kedua, Tiadanya Khilafah Islamiyah menyebabkan umat Islam mengalami kondisi yang sangat mengenaskan yang belum pernah dialami sebelumnya. Berbagai fakta bisa kita runut, dimulai dari keterpecahan umat Islam kedalam puluhan negara bangsa (nation state) yang berdiri sendiri, masing-masing tak peduli terhadap kondisi umat Islam di negara lain. Kemudian diusirnya rakyat Palestina dari tanah airnya oleh Zionis Israel pada 1948. Penjajahan kaum kuffar di berbagai negeri Islam, seperti di Palestina, Bosnia, Iraq, Afghanistan, dan negeri-negeri Islam lainnya. Umat Islam tanpa Khilafah terus mengalami kemunduran di hampir seluruh aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Umat Islam juga terus disudutkan dengan berbagai tuduhan yang tak berdasar, seperti sebagai pelaku terorisme. Umat Islam yang ingin menjalankan ajaran agamanya secara sempurna dituduh berideologi setan dan menjadi cikal bakal pelaku teror, sedangkan AS dan negara-negara Eropa yang menjadi penyebab Perang Dunia 1 dan 2, otak dibalik berbagai konflik dan peperangan di Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan, serta pembunuh jutaan manusia di Palestina, Bosnia, Iraq dan Afghanistan dianggap sebagai pahlawan pembela HAM dan Demokrasi.
Bahkan lebih dari itu, keberadaan Khilafah Islamiyah sebagai pusat dan pemimpin peradaban dunia tidak hanya demi kebaikan umat Islam tetapi kebaikan bagi seluruh manusia. Hal ini sesuai dengan konsep Islam yang rahmatan lil ‘Alamin. Keterpurukan dunia saat ini bukan hanya dirasakan oleh umat Islam tapi juga hampir seluruh umat manusia, kecuali segelintir kapitalis. Krisis global yang terjadi sekarang bahkan berimbas ke negara-negara Eropa dan Amerika yang bukan negeri Islam. Jika Khilafah tegak, maka krisis semacam ini tak akan terjadi lagi karena Islam punya sistem keuangan yang berbasis emas dan perak yang jauh lebih stabil daripada uang kertas.
Khilafah juga akan menjamin kesejahteraan dan keadilan untuk seluruh warga negaranya, baik muslim maupun non muslim. Bahkan dalam sejarah dunia, hanya Khilafah yang benar-benar membuktikan toleransi umat beragama ketika umat Islam, Kristen dan Yahudi hidup rukun di bawah naungan Khilafah Islamiyah.
Oleh sebab itu salah satu upaya yang dapat kita lakukan agar khilafah dapat kembali tegak yaitu dengan berdakwah. Dakwah yang akan membuka mata dunia bahwa hanya pada Islam lah terdapat kebahagiaan sejati dan keselamatan. Dakwah yang bertujuan untuk mengembalikan kehidupan Islam seperti kehidupan pada masa Rasulullah SAW dan para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum.
Dakwah merupakan aktivitas yang teramat mulia, bahkan pekerjaan yang paling mulia. Aktivitas ini merupakan aktivitas utama para Nabi dan Rasul di setiap zaman, dan adakah manusia yang lebih baik daripada para Nabi dan Rasul?. Sebuah keniscayaan, setiap orang yang meneladani aktivitas para Nabi dan Rasul tersebut tentu juga akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Tapi, apakah setiap orang yang berdakwah akan mendapatkan kemuliaan seperti para Nabi dan Rasul? Apakah setiap orang yang menyandang status pengemban dakwah berarti mereka adalah orang yang mulia?
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (agama) Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk golongan orang-orang muslimin.” [QS. Fushshilat: 33].
Ayat di atas merupakan salah satu dalil yang menunjukkan kemuliaan para pengemban dakwah. Betapa tidak, dengan sebuah pertanyaan retoris, Allah menyatakan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik dari pada kata-kata dakwah. Luar biasa. Berarti secara otomatis, setiap pengemban dakwah adalah orang mulia yang melakukan pekerjaan besar dan terbaik di sisi Allah. Iya kan ?.

Batman Begins - Diagonal Resize 2

iklan


animasi bergerak naruto dan onepiece