WELCOME TO MY BLOG
| | | | |
TEGAKKAN SYARI'AH DAN KHILAFAH ISLAMIYAH

Minggu, 30 Juni 2013

Panyakit Pada Unggas


1.    ND
ND merupakan masalah besar dan momok bagi dunia peternakan, karena penyakit ini dapat menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi (mencapai 100%) dan waktu penyebarannya yang sangat cepat, baik pada ayam ras, ayam buras maupun jenis unggas lainnya. Menurut para ahli, penyakit ini dapat menular pada manusia dengan gejala klinis conjunctivitis (radang konjunctiva mata) walaupun kasusnya sangat jarang dijumpai. Sedangkan pada unggas dan burung liar lainnya dengan gejala klinis berupa gejala syaraf, gejala pernafasan dan gejala pencernaan.
Program vaksinasi harus dilakukan dengan seksama dan diperhatikan masa kekebalan yang ditimbulkan.

Penyebab dan Kejadiannya
Penyakit ND disebabkanoleh virus dari famili Paramyxoviridae dengan genus Pneumovirus atau Paramyxovirus, dimana virus ini dapat menghemaglutinasi darah. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Doyle pada tahun 1926 didaerah Newcastle Inggris dan pada tahun yang sama Kraneveld menemukan virus penyakit ini di Bogor. Kejadian penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, dimana menyerang seluruh jenis unggas termasuk burung liar. Virus penyakit ini dapat ditemukan pada organ-organ seperti alat pernafasan, syaraf dan pencernaan.
Penyebaran
         Penyebaran penyakit ini biasanya melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit dan kotorannya, melalui ransum, air minum, kandang, tempat ransum/minum, peralatan lainnya yang tercemar oleh kuman penyakit, melalui pengunjung, serangga, burung liar dan angin/udara (dapat mencapai radius 5 km). Virus ND ditemukan dalam jumlah tinggi selama masa inkubasi sampai masa kesembuhan. Virus ini terdapat pada udara yang keluar dari pernafasan ayam, kotoran, telur-telur yang diproduksi selama gejala klinis dan dalam karkas selama infeksi akut sampai kematian.
Gejala Klinis
Gejala penyakit ini dapat diamati melalui gejala pernafasan seperti bersin-bersin, batuk, sukar bernafas, megap-megap dan ngorok; gejala syaraf berupa sayap terkulai, kaki lumpuh (jalan terseret), jalan mundur (sempoyongan) serta kepala dan leher terpuntir (torticoles) yang merupakan gejala khas penyakit ini. Kemudian gejala pencernaan meliputi diare berwarna hijau, jaringan sekitar mata dan leher bengkak, pada ayam petelur produksinya berhenti, kalau sudah sembuh kualitas telurnya jelek, warna abnormal, bentuk dan permukaannya abnormal dan putih telurnya encer. Hal ini disebabkan oleh karena organ reproduksinya tidak dapat normal kembali. Umumnya kematian anak ayam dan ayam muda lebih tinggi dibandingkan ayam tua.

Bedah Bangkai
Untuk lebih meyakinkan bahwa suatu peternakan benar atau tidanya terserang ND, maka tindakan bedah bangkai adalah jalan terbaik dalam menegakkan diagnosa. Pada kasus ND hasil bedah bangkai berupa gejala khas penyakit ini, yaitu adanya bintik-bintik merah (ptechie) pada proventriculus (kantong depan ampela). Selain itu juga terjadi perubahan pada lapisan usus berupa pendarahan dan kematian jaringan (nekrosa). Pada organ pernafasan akan mengalami eksudasi dan kantong udaranya menipis.
Penanggulangan
Berhubung penyakit ND disebabkan oleh virus maka sampai saat ini belum ada satu jenis obat yang efektif dapat menyembuhkan penyakit ini. Penanggulangan penyakit ND hanya dapat dilakukan dengan dengan tindakan pencegahan (preventif) melalui program vaksinasi yang baik. Ada dua jenis vaksin yang dapat diberikan yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif berupa vaksin hidup yang telah dilemahkan, diantaranya yang banyak digunakan adalah strain Lentogenic terutama vaksin Hitchner B-1 dan Lasota. Vaksin aktif ini dapat menimbulkan kekebalan dalam kurun waktu yang lama sehingga penggunaan vaksin aktif lebih dianjurkan dibanding Vaksinasi pertama sebaiknya diberikan pada hari ke-empat umur ayam. Vaksinasi lanjutan pada umur empat minggu, dan selanjutnya tiap empat bulan sesuai kebutuhan.
Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan
- cara semprot,
- tetes (mata, hidung, mulut),
- campur air minum
- suntikan. (Dosis dan cara pemakaian masing2 silakan dilihat pada leaflet yg ada dalam vaksin).

2.    Ngorok
Penyakit Ngorok biasa dalam bahasa kedokteran biasa disebut dengan Chronic Respiratory Disease (CRD) atau mikoplasmosis atau Sinusitis atau Air Sac.Penyakit Chronic Respiratory Disease disebabkan oleh bakteri Mycoplasma galisepticum.Biasanya menyerang ayam pada usia 4-9 minggu.Penularan terjadi melalui kontak langsung,peralatan kandang,tempat makan dan minum,manusia… Lihat Selengkapnya,telur tetas atau DOC yang terinfeksi.
Faktor predisposisi atau faktor pendukung
- Kondisi kandang yang lembab
- Kepadatan kandang yang terlalu tinggi
- Litter yang kering
- Kadar amonia yang tinggi.
Cara penularan
Penularan penyakit terjadi baik secara vertikal maupun horizontal.Secara vertikal dapat melalui induk yang menularkan penyakit melalui telur dan horizontal disebarkan dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat.Penularan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan tempat peralatan,tempat pakan,hewan liar maupun petugas kandang.
Gejala klinis
Ngorok basah,adanya leleran hidung lengket dan terdapat eksudat berbuih pada mata dan ayam suka menggeleng-gelengkan kepalanya.Pada kasus kronis mengakibatkan kekurusan dan keluarnya cairan bernanah dari hidung.
Pengobatan
        Pengobatan CRD pada ayam yang sakit dapat diberikan baytrit 10% peroral,mycomas dengan dosis 0.5 ml/L air minum,tetraclorin secara oral atau bacytracyn yang diberikan pada air minum.
Pencegahan
         Membeli ayam baik indukan,pejantan,dan anakan yang benar-benar terbebas dari chronic respiratory disease (CRD).Menjaga kebersihan dan tingkat kelembaban kandang dan area ayam.

Pembibitan Sapi Potong Model Loka


Dukungan terhadap Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang dicanangkan tanggal 11 Juni 2005 adalah dengan upaya pencapaian Program Percepatan Swasembada Daging Sapi pada tahun 2010. Realisasi Program Swasembada Daging 2010 adalah dengan peningkatan baik populasi maupun produktivitas sapi potong karena dalam kurun waktu 1994 – 2002 populasi sapi potong mengalami penurunan sebesar 3,1% per tahun.

Penurunan populasi sapi potong tersebut hanya mampu menyuplai kebutuhan daging sapi sebesar 1,72 kg/ tahun padahal konsumsi ini diramalkan akan meningkat 2 – 3 kali lipat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu hal penting yang harus dilakukan untuk mendukung program menuju swasembada daging 2010 adalah dengan meningkatkan populasi dan produktivitas ternak sapi.

Kurangnya pasokan sapi bakalan merupakan permasalahan utama dalam industri sapi potong Indonesia. Dukungan penuh terhadap Program Swasembada Daging 2010 oleh Loka Penelitian Sapi Potong adalah dengan menyiapkan strategi pembibitan sapi potong menggunakan teknologi kandang kelompok, teknologi pakan berbasis tanaman padi, teknologi kawin alam dan penyapihan pedet umur 205 hari diharapkan mampu mencapai terlaksananya program percepatan swasembada daging 2010.

Pola Perbibitan

Pada tahap awal Lolitsapi merupakan lembaga yang melakukan perbibitan sapi potong selanjutnya melakukan penjaringan pejantan maupun induk sebagai tetua sedangkan turunannya digunakan sebagai pejantan PO yang memiliki pedigree serta diketahui kemampuan produksi tetuanya. Upaya mendapatkan bibit sumber dilakukan melalui seleksi berdasarkan nilai pemuliaan tampilan produksi (pertumbuhan dan statistik tubuh) pada umur sapih (205 hari), 1 tahun (365 hari) dan 18 bulan (540 hari) secara bertahap.

Sapi–sapi pejantan hasil seleksi di di Lolitsapi akan digunakan sebagai pemacek dan dikembangkan melalui kegiatan Unit Pengelola Bibit Unggul (UPBU), disebarkan sebagai pemacek di wilayah pengembangan sapi potong (VBC) maupun diserahkan ke BIB atau BIBD.

Monitoring terhadap pedet–pedet turunan pejantan di Lolitsapi, UPBU, VBC maupun BIB dilakukan untuk mengamati nilai pemuliaan pejantan tersebut. Selain melakukan penelitian peningkatan produktivitas sapi potong melalui peningkatan mutu genetik di Stasiun Percobaan, juga dilakukan pembinaan terhadap kelompok ternak diwilayah pengembangan sapi PO yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas sapi potong di daerah tersebut serta menjaring sapi PO baik sebagai bibit sumber maupun untuk replacement.

Manajemen Perkawinan
Perkawinan di Lolitsapi dilakukan dengan menggunakan sistem kawin alam. Seekor sapi pejantan digunakan untuk mengawini 10–30 ekor induk pada sistem perkawinan alam di kandang kelompok. Agar sapi bibit sumber dapat menghasilkan pedet setiap tahunnya (11–14 bulan), maka harus dilakukan pengaturan reproduksinya sebagai berikut :

a. Minimal 40 hari post partus induk harus dimasukan ke kandang kawin dengan target selama dua kali siklus estrus sudah bunting.

b. Satu sampai 2 bulan sebelum beranak, induk diberi ransum berprotein dan energi cukup tinggi untuk mendukung tercapainya kondisi badan yang cukup bagus saat beranak dan selama beberapa bulan awal menyusui pedetnya serta untuk mempercepat estrus setelah beranak (anoestrus post partus).

Manajemen Penyapihan

Umur penyapihan pedet pada usaha peternakan rakyat sangat beragam yaitu berkisar 4-6 bulan dengan model penyusuan tanpa batas (Affandhy et al.,2001). Penyapihan dilakukan pada saat pedet berumur 7 bulan. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penyapihan pedet adalah :

1. Aspek biologi yang mempertim-bangkan kesiapan pencernaan pedet terhadap pakan berserat kasar tinggi selain itu susu juga merupakan pakan terbaik untuk pedet karena pencernaannya masih dalam fase monogastrik.

2. Aspek teknis yang mempertimbangkan kecukupan pakan bagi induk dan pedet.

3. Aspek ekonomis yang mempertim-bangkan susu induk merupakan pakan berkualitas yang murah serta harga jual pedet optimal.

Manajemen Perkandangan

Kandang koloni atau kandang kelompok merupakan model kandang dalam suatu ruangan kandang ditempatkan beberapa ekor ternak, secara bebas tanpa diikat, berfungsi sebagai tempat perkawinan dan pembesaran anak sampai dengan disapih, atau digunakan sebagai kandang pembesaran maupun penggemukan. Sepanjang bagian sisi kandang dilengkapi dengan tempat palungan yaitu pada sisi depan untuk tempat pakan hijauan dan tempat air minum secara terpisah, sedangkan pada sisi belakang kandang palungan untuk tempat pakan penguat atau konsentrat.

Penyisiran sapi bunting setelah kebuntingan 8 bulan dilakukan pemisahan dari kelompok untuk dikelompokkan dalam kandang beranak sampai dengan anak umur 40 hari. Setelah pedet umur 40 hari, induk beserta anak dikumpulkan dengan pejantan terpilih dalam kandang kelompok. Pedet disapih pada umur 7 bulan untuk selanjutnya dipelihara dalam kandang pembesaran.
Batman Begins - Diagonal Resize 2

iklan


animasi bergerak naruto dan onepiece